03 Juli 2024


Aku anak perempuan pertama.


Aku pernah membaca sebuah postingan dari akun Instagram @rifafam - Rifa Fauziyah. Katanya kurang lebih seperti ini,

"Jangan pernah merasa berjasa atas apa yang kamu berikan kepada kedua orang tua dan saudaramu. Entah berapa pun nominalnya atau apa pun bentuknya. Jangan pernah haus rasa terima kasih dari mereka atas apapun yang telah diberikan olehmu".


Aku anak perempuan pertama yang ku anggap kebetulan sedang bekerja, sehingga mau tidak mau dan harus membantu ekonomi keluarga termasuk biaya sekolah saudaraku.

Bohong kalau aku bilang tidak lelah atas apa yang terjadi, atas apa yang sebenarnya bukan kewajibanku. Semua orang yang sedikit banyak mirip denganku pasti juga pernah merasa lelah dan marah. Bahkan mungkin merasa tidak adil, dan bertanya-tanya mengapa harus aku?

Anak perempuan pertama adalah tempat ibunya pulang untuk menceritakan segala isi atau keluh kesah hatinya, bahkan rasa ketidaksukaannya pada suaminya atau Ayahku sendiri.

Padahal, aku sedang susah payah untuk tetap menyukai, tetap mencintai Ayah tanpa pamrih, bahkan sebelum Ibu menceritakan hal yang kurang baik pada dirinya.

Padahal, aku sedang tertatih untuk tetap tegar menjalani kehidupan diluar rumah yang semakin hari semakin ada-ada saja hal yang melelahkannya.


Tapi katanya,

Kepada siapa lagi Ibu bercerita?

Cuma kamu, anak perempuan Ibu yang bisa dipercayai.

...

Mba Rifa benar.

Terima kasih sudah menuliskan hal itu di postingan mba.

Akan selalu aku ingat, terlebih saat diwaktu paling melelahkan.


Katanya seperti ini,

"Selalu akan terasa lelah, berat bahkan kecewa, Jika hanya melihat dengan mata manusia."

Lelah saat menghitung uang belanja bulanan, dari beras sampai token listrik. Kecewa karena harus mendahulukan keperluan sekolah adik daripada sepatu pribadi yang sudah usang. Kesal karena ingin menabung, tapi uang gajian pun takut tidak cukup sampai gajian lagi"

Rasanya selalu ingin mengulang masa lalu dan memilih untuk tidak dilahirkan

Sudah tidak lagi ingin berteriak

Hanya ingin diam dan menghilang

Ingin dunia ini cepat berakhir


Namun sekali lagi aku membaca postingan beliau,

Katanya, anak yang terlahir sepertiku ini justru amat sangat beruntung.

Iya, beruntung menurut pandangan akhirat atau menurut Tuhan

Punya banyak pintu Surga

Punya banyak keridhoan dari orangtua yang kemudian menjadi jalan ridhonya Allah SWT

Punya banyak yang Allah sukai


Dunia ini memang tempat yang melelahkan, sangat melelahkan, selalu melelahkan.

Aku, anak perempuan atau semua sandwich generation dilahirkan bukan tanpa alasan.

Allah menciptakan segala sesuatu selalu dengan banyak alasan dan dengan takdir yang paling baik.

Tentang semua hal sedih, kecewa dan melelahkannya pun pasti tidak ada yang percuma dalam pandanganNya.

Asalkan,

Tidak dirusak dengan rasa "berjasa" atas segala bentuk dan berapapun nominalnya yang pernah diberikan untuk siapapun, apalagi untuk keluarga.

Terus mengingat bahwa Allah tidak pernah membutuhkan perantara apapun untuk memberi rezeki dan nikmatNya pada setiap makhluk. Maka, setiap apa yang diberikan pada orangtua dan saudara, sejatinya itu juga untukku, untuk kita. untuk tiket menuju ridhoNya, SurgaNya.


Postingan Mba Rifa di Instagram itu terus menyadarkanku bahwa tidak mengapa atas segala emosi yang aku rasakan. Karena aku manusia biasa. Namun, jangan pernah merasa berjasa.

Sekali lagi,

Aku, kamu, kita sangat beruntung.

Pintu-pintu surga itu selalu terbuka untuk kita yang mau sabar dan ikhlas.

Jangan dirusak dengan rasa;

"Ini pemberianku"

"Ini karena diriku"


Untuk siapapun anak pertama perempuan atau sandwich generation yang mirip kisahnya denganku, kita kuat karena Allah membersamai kita selalu dengan segala kekuatannya, dengan sandaranNya.

Allah tempat kita kembali dengan segala bentuk perasaan dan permohonan maaf.

Komentar